Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

Antara Kayu dan Kreativitas

I, intuiting itu ibarat kayu. Kayu pohon tumbuh dan bergerak vertikal. Kayu pohon tumbuh, hidup dan menghasilkan buah. Kayu seperti tidak pernah berhenti tumbuh ingin mencapai langit. Dan juga kayu tumbuhan indah dan sedap dipandang mata. Jika orang ingin mencari lambang kreativitas maka simbol yang digunakan adalah pensil kayu, bukan ballpoint. Demikian juga benda-benda kreatif bahkan rumah kreatif terbuat dari kayu. Kayu memiliki kekuatan sekaligus fleksibilitas. Kayu menghadirkan kreativitas. Jika kau tinggal di kawasan atau rumah yang banyak pohonnya, maka hawa kreatifitas mudah didapatkan. Gerakan kayu yang cenderung bergerak vertikal ke atas seakan mencapai langit, ibarat penuh optimisme sedang melompat mengejar masa depan. Kayu menciptakan kreativitas. Kreativitas lambang kualitas ilmu. masih ingat dalam keilmuan terbagi tiga kelas: deskriptif, analitis, kemudian tertinggi adalah sintesis. Sintesa adalah hasil kreativitas.Orang I: optimis, kreatif, berkelas, kuat dan fleks

Di Beranda Waktu Hujan

Kau sebut kenanganmu nyanyian (dan bukan matahari yang menerbitkan debu jalanan, yang menajamkan warna-warni bunga yang dirangkaikan) yang menghapus jejak-jejak kaki, yang senantiasa berulang dalam hujan. Kau di beranda sendiri, "Kemana pula burung-burung itu (yang bahkan tak pernah kau lihat, yang menjelma semacam nyanyian semacam keheningan) terbang; kemana pula siut daun yang berayun jatuh dalam setiap impian?" (Dan bukan kemarau yang membersihkan langit, yang pelahan mengendap di udara) kau sebut cintamu penghujan panjang, yang tak habis-habisnya membersihkan debu, yang bernyanyi di halaman. Di beranda kau duduk sendiri, "Dimana pula sekawanan kupu-kupu itu, menghindar dari pandangku; dimana pula (ah, tidak) rinduku yang dahulu?" Kau pun di beranda, mendengar dan tak mendengar kepada hujan, sendiri, "Dimanakah sorgaku itu: nyanyian yang pernah mereka ajarkan padaku dahulu, kata demi kata yang pernah ku hafal, bahkan da

Bekal Pernikahan_#2

Oleh-oleh dari menghadiri sekolah pra nikah pagi tadi.. kenapa pake #2? karena ini memang pertemuan yang kedua. Yang pertama kemarin cuma ngikutin 1 sesi aja sih. Karena g lengkap, jadinya g ditulis.. he Nah untuk yang kedua ini, spesial datengin Ust. Cahyadi Takariawan dari Jogja. Seorang penulis buku-buku dakwah, juga buku-buku pernikahan dan rumah tangga. Pertemuan kedua ini langsung bahas dua materi, yaitu persiapan finansial dan menentukan kriteria pasangan. Oke, kali ini aku akan mencoba menuliskan kembali apa yang ku dapat dari sana. Maybe, something is interesting.. :) .......................... Kita sering kali melihat atau mengalami apa yang namanya ilusi kebahagiaan.  Saat seseorang yang berjalan kaki melihat orang lain naik motor, ia berkata, "seneng banget ya kalau punya motor, bisa kemana aja gampang." Nah yang naik motor itu, pas liat orang naik mobil, dia juga bilang, "bahagia ya jadi orang kaya, bisa punya mobil." sem

Jika Suatu Saat Nanti........

Saat orang yang kau sayang meninggalkanmu, pasti akan sangat sedih.. kehilangan.. dalam hidup kita itu pasti terjadi kan,,. entah itu orang-orang di sekitar mu yang akan meninggalkanmu pergi entah kemana.. atau pergi untuk selamanya.. sering kali terlintas di pikiran ku.. jika aku yang pergi lalu bagaimana? apakah akan ada orang-orang yang kehilangan diriku? apakah akan ada yang merindukanku? 'hah,, emang siapa dirimu sampai kau bisa berpikir seperti itu?' pertanyaan yang ku tujukan untuk diriku sendiri. jika suatu saat nanti aku akan pergi,, aku ingin kebaikanku lah yang akan mereka kenang. untuk itu aku ingin selalu bisa berbuat baik kepada semua orang.. ya, tapi diri ini pun tak sempurna,, apa adanya.. jika suatu saat nanti aku akan pergi,, aku ingin orang-orang yang aku cintai,, tahu bahwa aku mencintai mereka.. walaupun cinta itu tak terucap oleh lisan ku.. aku ingin mereka bahagia,, bahagia,,, dan akan baik-baik saja,, menjadi lebih baik dari s

Hujan Bulan Juni..

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon itu (Sapardi Djoko Damono-1989)

Nothing...,

Tahukah kau rasanya,, saat tangan ini serasa tak ada yang bisa dilakukan? tak bisa memberikan solusi,, tak mampu menolong,, tak kuasa menghapus air mata... tak ada..

Kepakan Sayap

Aku terbang dari taman rumah ku. Dan berada di taman bunga ini sekarang. Taman bunga indah yang berhasil mengubah kupu-kupu ini. Bermetamorfosis.. Ya, dulu sayap ku sungguh kecil. Berharap untuk bisa terbang lebih tinggi. Berharap untuk menjadi kupu-kupu yang lebih indah. Terbang sendiri seolah sering kali ku lakukan. Tak berniat seperti itu. Tapi seperti itulah rasanya. Di sini, di taman bunga ini, aku bisa terbang dengan kawanan yang lain. Menikmati manisnya madu. Atau bertahan dari segala terpaan. Belajar hakikat kehidupan.. Aku sungguh menyukai taman bunga ini.. Tapi aku ingin terbang,, lagi.. Ke taman bunga yang lain.. Bukan karena aku tak suka, sungguh.. Aku ingin mengepakkan sayap ini... Terbang... Membawa berjuta kenangan di memoriku yang kecil ini Menanti takdir Illahi..